Apa Yang Harus Dilakukan Terhadap Penderita Gagal Ginjal – Dr. Cut Putri Arianie, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular MHKes (Kementerian Kesehatan RI) saat memberikan paparan “Ginjal Sehat untuk Semua: Apa Strategi Pemerintah?” pada Press Briefing Hari Ginjal Sedunia 2019 di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan – Rabu 13 Maret

Ginjal merupakan salah satu organ terpenting dalam tubuh yang fungsinya membuang kelebihan air dan racun, mengatur tekanan darah, membantu produksi sel darah merah, dan menjaga kekuatan tulang, namun jika fungsi tersebut tidak berfungsi dengan baik atau tidak lengkap. Jika rusak maka akan berakibat fatal sehingga menimbulkan berbagai penyakit ginjal, seperti penyakit ginjal kronis, penyakit ginjal akut, dan gagal ginjal.

Apa Yang Harus Dilakukan Terhadap Penderita Gagal Ginjal

Apa Yang Harus Dilakukan Terhadap Penderita Gagal Ginjal

, penyakit ginjal kronis merupakan penyebab kematian nomor 27 di dunia, sedangkan gagal ginjal merupakan penyebab kematian pada 1,5 miliar orang.

Bolehkah Pasien Ginjal Kronis Berpuasa?

Penyakit ginjal jarang menunjukkan tanda dan gejala serius pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, tanda dan gejala penyakit ginjal menjadi agresif.

Oleh karena itu, Dr. Cut Putri Arianie, MHKes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (), Kementerian Kesehatan RI telah menyampaikan beberapa cara mencegah penyakit ginjal, dengan perilaku “SMART”, yaitu:

Dr.

Menurut Dr. Cut, saat ditemui pada peringatan Hari Ginjal Sedunia di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2019) mengatakan, bagi pekerja yang tidak mempunyai waktu luang untuk berolahraga, pastikan ada 2 hari libur (seperti hari libur). akhir pekan). ) untuk berlatih dalam seminggu.

Gagal Ginjal Dan Penanganannya

Membayar waktu berolahraga setara dengan 10.000 langkah per hari, jadi jangan sampai melewatkan olahraga karena sibuk bekerja, minimal berjalan kaki atau menggunakan tangga di kantor.

Hari Ginjal Sedunia kembali diperingati di seluruh dunia dengan mengusung tema “Kidney health for Everyone Everywhere” atau “Ginjal Sehat untuk Semua Orang, Dimana Saja”. Seruan untuk meningkatkan kesehatan ginjal bagi semua orang dan dimana pun juga dilakukan di Indonesia, kali ini dengan penekanan pada pencegahan penyakit dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan ginjal.

Ketimpangan akses layanan di seluruh Indonesia juga menjadi salah satu permasalahan utama penanggulangan CKD. Hal ini tentunya memerlukan perhatian dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta dan peran serta seluruh masyarakat.

Apa Yang Harus Dilakukan Terhadap Penderita Gagal Ginjal

Dr. Aida Lydia, PhD., Sp.PD-KGH, Sekretaris Jenderal PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) dalam jumpa pers hari ini mengatakan, saat ini diperkirakan sekitar 10% penduduk dunia menderita PGK. Prevalensi CKD cenderung lebih tinggi di negara-negara berkembang. Di Asia Tenggara, prevalensi CKD sangat bervariasi, antara lain di Malaysia sebesar 9,1%, dan di Thailand sebesar 16,3%. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dilansir Prodjosudjadi W. (2006), dimana prevalensi PGK di Indonesia saat itu sebesar 12,5%. Sehingga perkiraan kejadian PGK saat ini mungkin jauh lebih tinggi dibandingkan data Riskesdas 2018. “PGK bisa berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir jika tidak ditangani dengan baik sehingga menimbulkan berbagai komplikasi bahkan kematian,” ujarnya, Rabu (13/3). ). Menurutnya, ketika seseorang memasuki tahap akhir penyakit ginjal, maka ia memerlukan terapi pengganti ginjal termasuk hemodialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal. Data Indonesia Renal Registry (IRR) tahun 2017 menunjukkan jumlah pasien aktif yang menjalani hemodialisis sebanyak 77.892 orang, sedangkan pasien baru sebanyak 30.843 orang, 59% diantaranya berada pada usia produktif 45-64 tahun. Dampak ekonomi yang ditimbulkan sangat besar. “Pada tahun 2017, JKN mengeluarkan dana untuk pasien gagal ginjal dengan pembiayaan sebesar 2,25 T yang merupakan pengeluaran tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.” Mengenai faktor risiko dan pencegahan penyakit ini, kata dia, ada beberapa faktor risiko terjadinya CKD seperti diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), obesitas, glomerulonefritis, penyakit autoimun, merokok, dan lain-lain. Terbatasnya data IRR pada tahun 2017 menunjukkan bahwa penyebab gagal ginjal terbanyak di Indonesia adalah hipertensi (36%) dan diabetes (29%).

Berapa Biaya Pengobatan Gagal Ginjal?

Pencegahan CKD dapat dilakukan melalui pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer merupakan program skrining yang bertujuan untuk mendeteksi orang-orang yang berisiko terkena penyakit ginjal. Sedangkan pencegahan sekunder dimaksudkan untuk mencegah pasien CKD mengalami penurunan fungsi ginjal yang lebih parah, sehingga dapat mengurangi jumlah pasien yang perlu menjalani terapi pengganti ginjal.” Ia menambahkan, penatalaksanaan penyakit ginjal yang ideal harus dipadukan dengan promosi pencegahan. , diagnosis dan terapi dini, penatalaksanaan gagal ginjal dengan terapi pengganti ginjal, hingga rehabilitasi dan terapi paliatif. Namun yang terpenting adalah mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam melawan bahaya penyakit ginjal.

Kolaborasi 3 pihak pertama di Indonesia! Brand Pembalut Charme, YKPI & Kemenkes Luncurkan Slogan “Mari Waspada Usai Menstruasi” Menuju 0 Deteksi Kanker Payudara Stadium Lanjut

Workshop Deteksi Dini Penyakit Paru Obstruktif Kronis Regional 4 Diselenggarakan Pada Tanggal 30 Agustus Hingga 2 September 2022, Jangan Ketinggalan!

Uji Publik Atas Perubahan Peraturan Pemerintah No. Dia menunjukkan lubang yang ditinggalkan oleh titik jarum. “Itu bekas tusukan jarum akibat cuci darah selama tujuh tahun,” ujarnya.

Jalan Lain Bagi Pasien Penyakit Ginjal Kronis

Namanya Tony Samosir, anggota Komunitas Cuci Darah Indonesia (KCDI). 7 tahun yang lalu Tony didiagnosa menderita Penyakit Ginjal Kronis (CKD). Namun tanpa putus asa, Tony membuktikan bahwa dengan terapi yang tepat, pasien CKD bisa berumur panjang.

Ginjal merupakan organ penting yang berfungsi menjaga komposisi darah. Cara kerja ginjal mencegah penumpukan limbah dan mengontrol keseimbangan cairan tubuh. Kemudian menjaga kadar elektrolit seperti natrium, kalium, dan fosfat tetap stabil. Ginjal juga memproduksi hormon dan enzim yang membantu mengontrol tekanan darah, membuat sel darah merah, dan menjaga kekuatan tulang.

CKD terjadi ketika fungsi ginjal kurang dari 15 persen dari kapasitas normal. Ketika gagal ginjal terjadi, darah tidak dapat lagi disaring. Produk limbah dan kelebihan cairan menumpuk di dalam tubuh, dan kondisi ini disebut uremia. Menyebabkan pembengkakan pada tangan dan kaki serta membuat seseorang lelah dan lemah. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kejang dan koma, hingga akhirnya kematian.

Apa Yang Harus Dilakukan Terhadap Penderita Gagal Ginjal

CKD merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia dengan angka kejadian yang tinggi, prognosis yang buruk, dan biaya yang besar. Sekitar 1 dari 10 penduduk dunia akan mengalami CKD suatu saat nanti. Prevalensi CKD meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk lanjut usia, kejadian diabetes melitus dan hipertensi. Beberapa penyebab CKD adalah diabetes melitus, hipertensi, glomerulonefritis kronik, nefritis interstisial kronik, penyakit ginjal polikistik, obstruksi, infeksi saluran kemih, dan obesitas.

Diagnosis, Klasifikasi, Pencegahan, Terapi Penyakit Ginjal Kronis

Menurut Global Burden of Disease tahun 2010, CKD menduduki peringkat ke-27 penyebab kematian di dunia pada tahun 1990 dan meningkat menjadi peringkat ke-18 pada tahun 2010. Sementara itu, pengobatan penyakit ginjal menduduki peringkat kedua dalam pendanaan BPJS kesehatan setelah penyakit jantung.

Penyakit ini tidak menunjukkan tanda dan gejala, namun bisa berakibat fatal. CKD tidak menimbulkan gejala atau tanda sampai rata-rata laju filtrasi darah (filtrasi glomerulus) mencapai 60 persen. Kelainan baru terlihat ketika laju filtrasi glomerulus turun hingga 30 persen. Saat itu, pasien mengeluh lemas, mual, nafsu makan berkurang, dan berat badan turun. Gejala dan tanda uremia akan semakin terasa bila laju filtrasi glomerulus kurang dari 30 persen.

Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa 0,2 persen penduduk usia di atas 15 tahun telah terdiagnosis PGK. Laki-laki lebih banyak menderita CKD dibandingkan perempuan (masing-masing 0,3 persen dan 0,2 persen). Angka kejadian penyakit ini lebih tinggi pada masyarakat pedesaan (0,3 persen), tidak bersekolah (0,4 persen), pekerja mandiri, petani/nelayan/buruh (0,3 persen). Sedangkan provinsi dengan prevalensi PGK tertinggi adalah Sulawesi Tengah sebesar 0,5 persen, disusul Aceh, Gorontalo, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,4 persen.

Kematian pasien yang menjalani cuci darah sepanjang tahun 2015 tercatat sebanyak 1.243 orang. Rata-rata pengobatan dialisis adalah 1-317 bulan. Proporsi tertinggi terjadi pada pasien dengan lama pengobatan 6-12 bulan.

Pasien Gagal Ginjal Kronik Harus Jalani Dialisis Seumur Hidup, Ini Pentingnya Peran Layanan Bpjs Kesehatan

Mengatasi Gagal Ginjal Kronis Cerita lain tentang vonis dan perjalanan menyakitkan melawan CKD diceritakan oleh Ambri Lawu Trenggono. Ambri adalah pria yang menyukai aktivitas alam seperti berjalan kaki dan jalan-jalan. Pada tahun 2009, ia didiagnosis menderita gagal ginjal, kondisinya memburuk pada tahun 2012, dan dokter menyarankan cuci darah.

“Saya juga memilih bekerja di lapangan. Jadi ketika saya dijatuhi hukuman dan tidak bisa melakukannya, dunia saya runtuh,” ujarnya.

Saat itu, Ambri praktis menarik diri dari segala hobi dan aktivitas. Dia berhenti bekerja dan merasa tidak berguna. Semua rencana masa depan yang dirancang, didirikan tengah. Namun berkat dukungan keluarga, ia kembali melanjutkan dan mencari tahu berbagai informasi tentang PGK.

Apa Yang Harus Dilakukan Terhadap Penderita Gagal Ginjal

Sejak menjalani cuci darah, berat badan Ambri berangsur-angsur menurun, dan tekanan darahnya terus menurun pasca terapi. Sejak itu, ia memutuskan untuk menjalani pengobatan peritoneal dialysis (PD). Ia menganggap terapi PD sebagai terapi yang paling efisien. Karena bisa dilakukan dimana saja tanpa harus ke pusat cuci darah untuk melakukan cuci darah.

Menyikapi Kasus Gangguan Ginjal Akut Pada Anak, Ini Tips Dari Kemenkes

Setelah itu, kehidupannya berangsur membaik. Berat badannya yang semula 55 kg bertambah menjadi 65 kg. Ambri pun bebas bepergian lagi dan kembali menjalani kehidupan normal seperti semula. Kuncinya adalah disiplin dan konsultasi ke dokter setiap bulan, mengikuti anjuran mengganti cairan, disiplin pola makan, dan menjalani pola hidup sehat.

Menurut Dr. uggul Situmorang, SpPD-KGH, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Pasien CKD memiliki beberapa pilihan terapi. Pertama, hemodialisis biasanya dilakukan oleh pasien CKD dan harus dilakukan di pusat dialisis atau rumah sakit sebanyak tiga kali seminggu selama empat hingga lima jam per sesi. Darah pasien dikirim melalui filter untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Kemudian darah bersih dikembalikan ke tubuh setelah proses penyaringan selesai.

Kedua, transplantasi ginjal/penyakit ginjal stadium akhir. Ini adalah terapi ideal untuk menggantikan fungsi ginjal. Namun terapi ini terkendala oleh kesesuaian donor ginjal. Metode terakhir adalah PD yang menggunakan membran peritoneum sebagai filter untuk membersihkan limbah dan membuang kelebihan cairan.

Pada dialisis PD, kateter berbentuk tabung kecil lembut dimasukkan ke dalam rongga perut pasien.

Mengenal Fomepizole, Obat Terapi Pasien Gagal Ginjal Akut

Makanan untuk penderita gagal ginjal, roti untuk penderita gagal ginjal, snack untuk penderita gagal ginjal, cemilan untuk penderita gagal ginjal, susu untuk penderita gagal ginjal, apa yang harus dilakukan penderita gagal ginjal, makanan penderita gagal ginjal, buah untuk penderita gagal ginjal, sayuran untuk penderita gagal ginjal, pantangan penderita gagal ginjal, makanan yang baik untuk penderita gagal ginjal, diet untuk penderita gagal ginjal

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *