Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi – Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Perindustrian meluncurkan kampanye #OneInCoffee sebagai upaya mempromosikan kopi Indonesia sekaligus menggerakkan roda perekonomian industri kopi tanah air agar tetap bergerak. krisis COVID-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dalam sambutannya, Senin, mengatakan kampanye nasional yang dicanangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bersama Kementerian Perindustrian (Kememperin) dan juga didukung oleh Tokopedia mengikutsertakan sekitar seribu pemain kopi dari daerah berbeda dengan kampung halaman.

Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Tokopedia akan memungkinkan para pelaku industri kopi untuk berjualan secara online. Halaman khusus kampanye #SatuInCoffee juga disediakan untuk menampung segala informasi yang memudahkan pengguna menemukan berbagai produk kopi lokal. Para pecinta kopi juga bisa ikut memperkuat kampanye #SatuInCoffee.

Bisnis Kedai Kopi Beralih Ke Sistem Online Demi Bertahan Di Tengah Pandemi

Ia juga mengatakan, dengan kondisi yang terjadi saat ini, semua pihak diharapkan mampu membuat rencana untuk melindungi industri lokal agar produk lokal menjadi pemimpin di pasarnya.

“Banyak hal yang perlu kita perkuat agar produk lokal tetap tersedia dan bersaing saat ini, serta menjaga perekonomian Indonesia,” kata Wishnutama.

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil biji kopi terbesar di dunia dengan pertumbuhan industri produksi kopi yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data International Coffee Organization tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam empat besar negara penghasil kopi di dunia.

“Kampanye #SatuInCoffee diharapkan dapat membantu industri kopi lokal dalam mempromosikan produknya serta menjaga stabilitas penjualan dan harga,” kata Wishnutama.

Aroma Segar Bisnis Kopi Indonesia Dari Hulu Ke Hilir

Secara terpisah, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan di tengah pandemi COVID-19, penting bagi semua pihak untuk ikut berupaya, termasuk pemerintah, pelaku industri, perusahaan teknologi Indonesia, dan masyarakat.

Saat ini terdapat 1.204 industri kecil dan menengah (IKM) kopi yang memproduksi biji kopi lokal dari petani di berbagai daerah di Indonesia.

“Kampanye #OneInCoffee merupakan contoh nyata bagaimana kita semua dapat turut serta mendorong penjualan produk kopi lokal melalui kafe, kedai kopi dan masyarakat luas yang akan berdampak pada perkembangan industri kopi di daerah. dan semua perdagangan agar kegiatan perekonomian tetap lancar. epidemi,” kata Agus Gumiwang.

Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Sementara itu, CEO dan Founder Tokopedia, William Tanuwijaya mengungkapkan, proyek kerja sama pemerintah dan pelaku industri kopi ini sejalan dengan salah satu prioritas Tokopedia dalam kampanye #JagaEkonomiIndonesia. Mendorong perputaran roda perekonomian Indonesia dan memastikan lapangan kerja tetap terjaga dengan memungkinkan para pelaku usaha lokal tetap berbisnis melalui Tokopedia.

Strategi Ekonomi Sektor Pertanian Di Tengah Pandemi Covid 19

Dalam kampanye ini, Tokopedia juga memberikan dukungan, akses dan edukasi yang diperlukan, termasuk peningkatan kualitas produksi dan pemasaran, serta menyediakan sumber daya yang memudahkan para pelaku industri kopi lokal untuk menjangkau lebih banyak pelanggan melalui Tokopedia.

Mengandalkan penjualan online dengan menggunakan platform seperti Tokopedia menjadi cara utama bagi para petani dan pelaku usaha kopi untuk menjaga penjualan dan kestabilan harga. Berbagai produk baru dan metode baru perlu dikembangkan agar petani dan pengusaha kopi dapat meningkatkan kemampuan online mereka.

“Dengan dukungan dari atas hingga bawah, kami berharap kekuatan kampanye ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh produsen kopi, mulai dari petani hingga pemilik merek kopi lokal, untuk dapat terus tumbuh dan berkembang lebih cepat, bahkan hingga mencapai titik temu. brand kebanggaan Indonesia yang akan mendunia di masa depan,” pungkas William. Ilustrasi: Seorang perempuan menunjukkan produk kopi kemasan yang dipajang pada konferensi bisnis produk UMKM unggulan NTB di Hotel Golden Palace Mataram, NTB, China (23) / 7/2020).ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi /NZ (ANTARA PHOTO/AHMAD SUBAIDI)

Saat ini sudah banyak warga yang mengajukan izin untuk memulai usaha pengolahan kopi kemasan skala UKM, namun sebagian pedagang belum masuk … Rejang Lebong (ANTARA) – Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu Province, mengatakan pada masa pendemi CCID-19 di wilayahnya terjadi peningkatan permohonan izin usaha kopi kemasan.

Hari Kopi Sedunia Ini Kiat Pebisnis Kopi Bertahan Kala Pandemi

Kepala DPM-PTSP Kabupaten Rejang Lebong, Bambang Budiono di Rejang Lebong, Tiongkok, mengatakan peningkatan permintaan kontrak pengangkutan untuk usaha kopi merupakan hal yang baik mengingat situasi penanaman modal asing belum masuk ke daerah tersebut.

“Saat ini banyak warga yang meminta izin untuk memulai usaha pembuatan kopi bubuk, skala UKM, namun sebagian investor belum masuk ke Rejang Lebong,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejak merebaknya COVID-19 di Indonesia dan negara lain, berdampak pada perekonomian daerah, termasuk di Kabupaten Rejang Lebong, sehingga hingga Agustus ini belum ada pembeli asing yang berinvestasi di daerah tersebut. .

Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Meski belum ada investornya, namun sebaliknya kegiatan usaha yang dipimpin oleh masyarakat Rejang Lebong semakin meningkat seiring dengan banyaknya permohonan izin bagi UKM yang bergerak di bidang produksi kopi berkualitas yang merupakan komoditas andalan Rejang Lebong.

Magang Di Tengah Pandemi, Wako Riza Falepi: Mahasiswa Harus Beradaptasi

“Bisnis ini sepertinya tidak terkena dampak wabah CCIDID-19, sehingga bisa dijual ke luar pasar dunia.

Para pelaku usaha ini mengaku menjaga dokumen legalitas usahanya agar mudah dalam menjual produk yang dihasilkannya, mengingat saat ini pelanggan semakin memperhatikan dan ingin membeli produk legal saja.

Baca Juga: Bisnis Kopi di Banyuwangi Mulai Pulih dari Dampak Epidemi Baca juga: Kemenperin Sebut Kopi Hadapi Kendala Ekspor di Beberapa Negara

Sebagai informasi, sektor kopi masih menghadapi permasalahan penurunan harga. Organisasi Kopi Internasional atau ICO dalam laporannya pada April 2020 menyebutkan penurunan produksi global sebesar 1 persen terkait dengan penurunan permintaan kopi sebesar 0,95 persen atau setara dengan 1,6 juta karung isi 60 kilogram.

Tokopedia Bersama Kemenparekraf Dan Kemenperin Ri Dukung Industri Kopi Lokal Lewat Kampanye #satudalamkopi

Pada Hari Kopi Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Oktober, Co-Founder dan CEO Otten Coffee Jhoni Kusno dan Robin Boe berbagi bagaimana pandemi CCIDID-19 berdampak pada bisnis kopi dan peluang yang dapat dimanfaatkan.

Aktivitas yang berpusat pada komunitas meningkatkan kebiasaan belanja online, termasuk saat membeli kopi. Di saat seperti ini, memasak dan menyeduh kopi sendiri di rumah sudah menjadi hobi baru yang dikenal para pecinta kopi, apalagi saat ini Anda bisa menemukan berbagai alat pembuat kopi.

Baca juga: Peringati Coffee Day, 14 Tenaga Kesehatan Berbeda di RSD Wisa Atlet Baca juga: eperin: Kopi olahan Indonesia sudah diakui pemain global

Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Untuk menyiasati rendahnya permintaan kopi di tengah wabah yang terjadi saat ini, para pelaku usaha dan petani kopi bisa memproduksi produknya terlebih dahulu sebelum menjualnya ke pasar. Misalnya, pengusaha kopi bisa membuat dan menjual kopi blend yang bisa diseduh pelanggannya di rumah.

Lesu Di Tengah Puncak Konsumsi Kopi

Tidak hanya kopi seduh, pelaku usaha kopi juga bisa menjual bubuk atau biji kopi serta minuman lain yang diperlukan untuk membuat kopi. Sementara itu, produsen dan petani kopi juga bisa menyiapkan produknya untuk penyimpanan lebih lama.

Menurut Jhoni, penting untuk selalu memastikan kondisi produk dan memberikan pemahaman yang baik kepada pelanggan mengenai kondisi produk kopi yang dijual, terutama di masa pandemi.

Kopi merupakan salah satu produk pertanian terpenting yang menggerakkan perekonomian di banyak negara, termasuk Indonesia, dengan menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.

Jhoni dan Otten Coffee baru-baru ini mengajak masyarakat untuk turut serta mendukung keberlanjutan produksi kopi lokal melalui program Benih Indonesia.

Fikompreneur Of The Month: Cerita Aldona Berbisnis Di Tengah Pandemi

Indonesia Seeds merupakan program pembelian benih bagi petani Single Origin Indonesia dan dukungan Otten Coffee dalam upaya pemerintah mendorong berdirinya industri kopi di masa pandemi.

Baca juga: Permintaan Kopi Kawa Daun Anjlok 50 Persen Baca Juga: Keenparekraf Bantu Daftarkan Sertifikasi IG Kopi Banjarnegara Baca Juga: Dodit Ulyanto Coba Nyanyikan “Udut Kopi” Petani Penjual Biji Kopi Ditemani Anaknya Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. ANTARA/Ketua AEKI Suut Saidul Ala.

Edan (ANTARA) – “Ada kopi, ada cerita, satu kopi lain cerita, tanpa kopi tak perlu banyak cerita. Ayo ngopi, kita akan bercerita,” kata sastrawan asal Aceh yang pernah dikenal sebagai seorang penyair, Fikar W Eda.

Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Kebiasaan ngopi ini bukan sekadar untuk mengisi waktu luang. Namun bisa juga berperan dalam pekerjaan atau sebagai mediator komunikasi antar manusia.

Aroma Ekspor Kopi Indonesia Di Tengah Pandemi

Hal inilah yang terjadi jika seseorang meminum secangkir kopi Arabika, Robusta, atau Liberika, terutama di hotel, restoran, kafe, bahkan kedai kopi pinggir jalan.

Namun setahun terakhir tradisi menikmati kopi mulai terganggu, akibat diterapkannya peraturan kesehatan untuk mencegah penyebaran wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Penjualan kopi pun menurun.

“Sebelum pandemi, penjualan kopi bulanan biasanya berkisar 2 ton. Namun sejak merebaknya COVID-19 pada tahun 2020, penjualannya turun hingga 80 persen,” kata penjual biji kopi asal Suatera, Fachriz Tanjung.

Faktanya, peraturan pemerintah dari satu daerah ke daerah lain atau provinsi berbeda, seperti kewajiban sosial yang besar, pembatasan jam kerja pada siang hari, dan penggunaan kondisi sosial, juga sangat mempengaruhi penjualan kopi.

Strategi Pemasaran Pada Usaha Kopi Kita Dalam Mempertahankan Penjualan Di Tengah Pandemi Covid 19

Akibatnya, beberapa kedai kopi dan pelaku usaha kopi memutuskan untuk menutup usahanya sementara waktu selama undang-undang tersebut diterapkan. Bahkan ada yang terpaksa ditutup dan tidak dibuka sama sekali.

Penjualan biji kopi di pasar dalam negeri semakin mendapat tekanan, meski kafe dan kedai kopi lainnya tetap melayani peminum kopi dengan sistem “ekstraksi” di masa kenormalan baru.

“Terakhir, kami sebagai distributor kopi memiliki rencana ‘win-win solution’. Jika model bisnis penjualan dan pembeliannya mogok, maka kami akan memberikan pinjaman sesuai waktu yang disepakati,” kata Fachriz.

Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Langkah ini memberikan keringanan dalam pembayaran pembelian kopi, sedikit memberikan peningkatan penjualan biji kopi untuk Gayo di Aceh, Karo, Lintong, Andailing, dan Sipirok di Sumatera Utara, Liberika Eranti di Riau, Kerinci di Jabi, Sumatera Selatan , dan Lapung. .

Di Tengah Pandemi, Peminat Kopi Indonesia Tumbuh, Bon Bahnasawi Buka Kedai Baru Di Kairo

Penjualan biji kopi perlahan mulai bangkit. Terjadi penurunan 20 hingga 40 persen per bulan di pasar dalam negeri, dan sebagian besar pasar di Pulau Jawa memiliki biji kopi Arabika Gayo andalan.

“Selain itu, kami terus berbenah. Mulai awal tahun 2021,

Bisnis di tengah pandemi, bisnis apa di tengah pandemi, bisnis menguntungkan di tengah pandemi, ide bisnis di tengah pandemi, bisnis sukses di tengah pandemi, bisnis bagus di tengah pandemi, bisnis rumahan di tengah pandemi, bisnis umkm di tengah pandemi, bisnis logistik di tengah pandemi, bisnis restoran di tengah pandemi, bisnis online di tengah pandemi, bisnis makanan di tengah pandemi

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *