Menceritakan Selama Belajar Di Rumah – Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Audrey Regina Verlee Setiawan. Saya sekarang duduk di bangku kelas satu SD Maria Bintang Laut yang berlokasi di

. Saya ingin berbagi kepada teman-teman pengalaman saya selama belajar di rumah atau biasa kita sebut dengan pembelajaran jarak jauh yang disingkat PJJ.

Menceritakan Selama Belajar Di Rumah

Menceritakan Selama Belajar Di Rumah

Di Indonesia pada bulan Maret 2020, sehingga kita semua terpaksa belajar dari rumah untuk memutus rantai penyebaran virus. Teman-teman, walaupun belajar di rumah, aku tetap bersemangat untuk melakukan PJJ karena aku mempunyai orang tua terutama ibu yang selalu menemaniku ketika belajar online, mereka adalah guru-guruku di rumah.

Suka Duka Selama Menjadi Amil

Setiap hari saya melihat dan mendengarkan penjelasan materi pembelajaran yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru melalui video pembelajaran, dan seminggu sekali saya bertemu dengan Bapak Guru dan teman-teman melalui

Aku punya bapak dan ibu guru yang baik… Ada Pa Jujun yang selalu sabar menghadapi kita yang super latah saat rapat, ada Bu Luci yang manis, ada Bu Elvira yang baik dan lucu, Loushi Viona yang baik, Pak Freddy yang bisa menyanyi dan bermain musik begitu pula Bu Ancilla. Mereka semua bekerja keras dan sabar mendidik kami agar kami semua menjadi anak yang pintar.

. Kata kata ini sangat tepat untuk kita yang sedang PJJ. Terkadang saya juga lelah dengan banyaknya misi yang saya jalani karena saya selalu suka bermain. Aku juga sedih karena dari pertama aku kelas satu sampai aku menulis cerita ini, aku tidak bisa belajar dan bermain dengan teman-temanku.

“Tuhan memberkati Indonesia dan seluruh negara di dunia agar wabah Covid-19 segera berlalu dan hilang sehingga saya bisa belajar di sekolah kembali bersama Bapak dan Ibu, guru dan teman-teman. Berikanlah kami kesehatan dan berkahilah kami dimanapun kami berada. Amin. » Setelah lulus Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya memutuskan untuk mengajar di sekolah yang berbeda dari sebelumnya. Sebenarnya aku sudah mengenal banyak orang di sekolah baru ini. Meski begitu, bekerja di tempat baru berarti saya masih menjalani proses adaptasi.

Tantangan Belajar Daring Untuk Anak Sekolah Dan Kuliah

Di sekolah ini, saya bekerja penuh waktu sebagai guru kelas 5 tanpa ada tugas tambahan. Aku merasa ada banyak hal di sekolah ini yang tidak sesuai dengan keinginan dan imajinasiku. Segalanya tampak jauh dari apa yang saya impikan. Selain itu, semangat para guru muda di sekolah ini sangat berbeda dengan teman-teman mereka yang mengikuti program PPG.

Meskipun saya seorang guru baru, saya telah memberikan banyak kontribusi kepada sekolah. Sayangnya, kontribusi saya hanya mendapat sedikit tanggapan. Sedih? Tentu saja. Namun, saya bertekad untuk tidak membiarkan semangat saya berkurang.

Hari-hariku bekerja di sekolah baru kujalani dengan mengikuti arus: mengajar sesuai materi yang ada, datang dan pulang sekolah sesuai jadwal dan tetap mengajar dengan baik walaupun terkadang ada rasa kurang nyaman di lingkungan baru. .

Menceritakan Selama Belajar Di Rumah

Suatu hari, saya diminta mengirimkan siswanya untuk mengikuti lomba matematika dan sains (MIPA) tingkat kecamatan. Tugas ini terbukti sulit karena saya kesulitan menemukan siswa yang berkualitas.

Pola Hidup Sehat Selama Menghadapi Pandemi Covid 19

Saat itulah saya mulai bersemangat. Dalam hati saya berpikir, “Tidak masalah, tidak perlu mengikuti orang lain atau mengajak yang tidak berkepentingan.

Menurut saya, jika ingin melakukan perubahan, harus dimulai dari diri sendiri, bukan orang lain. Oleh karena itu, ketika hatiku mulai bergerak, aku pun langsung tergerak.

Saya kemudian memulai kegiatan yang menurut saya baik dan bermanfaat. Saya mengatur dan mendekorasi kelas, serta melaksanakan tugas-tugas administratif. Saya membuat program kelas sendiri dengan harapan dapat menjalin hubungan baik dengan orang tua siswa, serta menjadi contoh kelas yang mandiri, inovatif dan kreatif.

Setiap pagi, saya meluangkan waktu untuk menyambut siswa di pintu sekolah. Saya juga mengajak siswa untuk membersihkan kelas, menyiram tanaman, dll.

Belajar Dari Pengalaman Negara Lain Menyelenggarakan Ptm Terbatas

Saya kemudian diminta mempersiapkan dan membimbing siswa yang akan mengikuti kompetisi, seperti menyanyi dan menggambar. Pada titik ini saya mulai merasa nyaman. Kelas lebih tertib dan saya selalu melibatkan orang tua siswa dalam kegiatan yang saya selenggarakan. Saya juga membentuk komunitas kelas 5.

Meskipun segala sesuatunya tampak berjalan baik, kendala masih tetap ada. Kepala sekolah jarang menerima saran dari teman-teman gurunya, sehingga terkadang membuatnya kesal.

Lingkungan sekolah tempat saya mengajar sangat nyaman. Jumlah siswanya cukup banyak dan memenuhi standar minimal 20 siswa dalam setiap kelompok belajar (rombel). Guru yang mengajar di sekolah ini terdiri dari guru honorer (5 orang) dan guru PNS/PNS (4 orang).

Menceritakan Selama Belajar Di Rumah

Namun, saya kesulitan mengajak teman-teman guru untuk berinovasi dan menciptakan kegiatan yang variatif. Mereka mempunyai semangat yang berbeda dengan teman-teman di program PPG.

Sekolah Baru, Pengalaman Baru

Guru yang berstatus PNS akan segera pensiun dan produktivitasnya tidak lagi seperti dulu. Sebaliknya sesama guru honorer mengurus urusan keluarga. Setiap hari mereka datang untuk mengajar, lalu langsung pulang. Sulit untuk mengajak mereka membiasakan menyambut siswa di pagi hari, rutin salat Dhuha dan menghafal Surat Pendek dan Asmaul Husna, apalagi mengajak mereka untuk mengembangkan literasinya.

Selama ini saya hanya memenuhi kewajiban mengajar siswa dan memberikan pembelajaran interaktif yang minim karena minimnya fasilitas sekolah dan dukungan dari kepala sekolah.

Setiap pagi, saya berangkat pagi agar bisa menyambut siswa ke sekolah dan menemani mereka membersihkan kelas.

**Semua artikel yang dimuat di Catatan Perjalanan Guru merupakan opini penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk tujuan editorial populer, dan tidak mewakili pandangan program Indonesia atau penyandang dananya. Saya memikirkan siswa yang tidak memiliki laptop atau ponsel. Begitu pula dengan siswa yang keluarganya hanya mempunyai satu telepon seluler dan digunakan untuk belajar oleh beberapa anak. Belum lagi masalah penggunaan kuota internet. Mereka pasti mengalami masalah besar dalam mengirimkan banyak tugas yang harus diselesaikan dalam satu hari. Mungkin Anda perlu memikirkan solusinya agar proses belajar berjalan lancar

Agar Anak Gembira Belajar Dari Rumah, Begini Tips Dari Dp3ap2kb Banda Aceh

Syukurlah batas waktu penyerahan tugas kini lebih panjang sehingga memudahkan siswa dalam menyelesaikan tugas, misalnya batas waktu penyerahan satu minggu. Di awal pembelajaran

, sepertinya banyak sekali pekerjaan rumah sehingga saya beberapa kali terlambat makan siang. Menurut saya, jika pekerjaan rumah yang diberikan terlalu banyak, hal ini dapat menyebabkan kelelahan dan stres pada siswa, sehingga dapat menyebabkan mereka sakit karena kurang istirahat.

Meski belajar di rumah menyenangkan, namun tidak ada yang bisa menggantikan nikmatnya belajar tatap muka dengan guru dan teman di kelas. Demikian pendapat saya tentang pembelajaran

Menceritakan Selama Belajar Di Rumah

Terima kasih kepada Bapak dan Ibu para guru yang tidak pernah lelah mengajari kami meskipun kami melakukannya dari rumah. Tetap semangat dalam belajar

Seabad Kisah Braga Permai Jadi Restoran Legendaris Di Kota Bandung

Untuk seluruh siswa khususnya SMAN 29 kelas X IPS-1. Semoga pandemi Covid 19 segera berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti semula.

Umar Abdul Aziz, siswi SMAN 29 Jakarta. Alumni SMPN 111 Jakarta dan SDIT Al Furqon Jakarta yang hobinya membaca, menulis dan mencicipi makanan halal thoyyiban…

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *