Menceritakan Tentang Pengalaman Belajar Di Rumah – . Saya memikirkan tentang siswa yang tidak memiliki laptop atau ponsel. Begitu pula dengan siswa yang keluarganya hanya mempunyai satu telepon seluler dan digunakan untuk belajar oleh beberapa anak. Belum lagi masalah penggunaan kuota internet. Mereka pasti banyak kesulitan mengirimkan beberapa tugas yang harus diselesaikan dalam satu hari. Mungkin Anda harus mempertimbangkan solusi untuk memperlancar proses pembelajaran

Alhamdulillah sekarang batas waktu penyerahan tugas menjadi lebih lama sehingga memudahkan siswa dalam menyelesaikan tugas, misalnya batas waktu penyerahan satu minggu. Di awal pembelajaran

Menceritakan Tentang Pengalaman Belajar Di Rumah

Menceritakan Tentang Pengalaman Belajar Di Rumah

, tugas yang harus diserahkan rasanya banyak banget sampai-sampai saya beberapa kali telat makan. Menurut saya, jika terlalu banyak tugas yang diberikan maka dapat menyebabkan kelelahan dan stress pada siswa yang dapat menyebabkan siswa sakit karena kurang istirahat.

Jual Buku Belajar Dari Pengalaman Karya Endar Wismulyani

Meski belajar di rumah menyenangkan, namun tidak ada yang bisa menggantikan nikmatnya belajar tatap muka dengan guru dan teman di kelas. Itu pendapat saya dalam belajar

Terima kasih Bapak dan Ibu guru yang tidak pernah lelah mengajari kami meskipun dilakukan dari rumah. Tetap semangat belajar

Untuk seluruh siswa khususnya SMAN 29 Kelas X IPS-1. Semoga pandemi Covid 19 segera berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti semula.

Umar Abdul Aziz, siswi SMAN 29 Jakarta. Alumni SMPN 111 Jakarta dan SDIT Al Furqon Jakarta yang hobi membaca, menulis dan mencicipi makanan halal thoyyiban… JAKARTA (25 Juli 2021) – Kementerian Sosial RI terus memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2021 dengan rangkaian acara menarik. Rangkaian acara hari ke-5 diakhiri dengan webinar Buku Harian Anak: Pengalaman Anak Indonesia Menghadapi Pandemi Covid-19.

Alasan Kenapa Anak Harus Belajar Agama Islam

Terjadi perubahan pola hidup anak akibat pandemi Covid-19, baik pada anak yang sudah bersekolah maupun yang belum bersekolah. Namun bagaimanapun kondisinya, orang tua harus memastikan terpenuhinya hak-hak anak, seperti tumbuh kembang yang baik, anak selalu bahagia dan penuh kreativitas.

Oleh karena itu, acara ini diadakan untuk menumbuhkan rasa empati kepada seluruh anak dan orang tua Indonesia, memberikan pengetahuan tentang Covid-19 dan membangun optimisme anak-anak dalam melewati pandemi Covid-19.

Webinar ini dimoderatori oleh dosen Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung, Rini Hartini Winda. Selain itu, beberapa narasumber yang berkompeten di bidangnya dan narasumber anak penyintas Covid-19 juga turut dihadirkan dalam webinar ini.

Menceritakan Tentang Pengalaman Belajar Di Rumah

Beberapa anak penyintas Covid-19 juga berbagi pengalamannya menghadapi Covid-19, mulai dari apa yang dirasakan anak jika terpapar, bagaimana perasaan orang tuanya jika terpapar, hingga bagaimana menjaga kesehatan agar bisa sembuh dari Covid. -19.

Apa Yang Saya Dapatkan Dari Sekolah Di Luar Negeri?

Maheswara, salah satu pembicara anak menceritakan kegelisahannya saat terpapar Covid-19. “Yang paling membuat saya kesal dan khawatir ketika terkena corona adalah ketakutan saya tidak akan sembuh. Tapi saya coba minum obat dan berdoa agar cepat sembuh,” kenangnya.

Berbeda dengan Anisa Fitria, sosok kekanak-kanakan yang merasa cemas saat isolasi mandiri. “Hal terberat yang dirasakan saat isoman (isolasi mandiri) adalah tidak bisa berkumpul dengan keluarga,” ujarnya.

Kekhawatiran lain juga disuarakan Anissa Three, sosok anak-anak yang peduli dengan stigma. “Saya khawatir pandemi ini akan berlangsung lebih lama sehingga saya tidak bisa menikmati masa SMA. Saya juga takut dengan stigma, dijauhi kalau kena Covid-19, ujarnya.

Psikolog klinis dan keluarga, Nurina mengatakan, dari sudut pandangnya sebagai psikolog, apa yang dikatakan anak-anak tersebut adalah hal yang wajar. “Kekhawatirannya mendekati sehat. Karena kelangsungan hidup akan semakin kuat dan tinggi jika didukung oleh keluarga,” ujarnya.

Kulik Perjalanan Inspiratif Kuliah S3 Maria Irmina, Dosen Informatika Umn

Covid-19, lanjut Rina, membuat anak memiliki ruang sosial yang terbatas, khawatir ketinggalan, bosan dengan pembelajaran daring dan lain sebagainya. Orang tua dan lingkungan hendaknya memberikan dukungan kepada anak berupa pewarnaan emosi. Oleh karena itu, lingkungan harus memberikan warna emosional yang positif kepada anak agar dapat melewatinya dengan baik tanpa rasa khawatir yang berlebihan.

Konsultan penyakit menular dan pediatri tropis Nina Dwi Putri mengatakan, saat ini ‘Covid-19’ muncul dalam varian yang berbeda seiring dengan evolusi dan adaptasi virus aslinya. Banyak anak-anak yang tertular saat ini karena banyak orang dewasa di sekitar anak-anak juga ikut terpapar.

“Untuk menghindari Covid-19, kita bisa melawan pejuang hebat yaitu diri kita sendiri dengan belajar di rumah, bermain di rumah dan mengikuti protokol kesehatan 3M, mencuci tangan, memakai masker dan menjauhi kerumunan,” jelas Dokter Nina.

Menceritakan Tentang Pengalaman Belajar Di Rumah

Pengaruh dan politik Wakil Direktur Program Save The Children, Tata Sudrayat, menguatkan pernyataan Dr. Nina. Di masa pandemi, anak-anak diminta belajar di rumah. Dukungan pekerja sosial terhadap anak di masa pandemi ini adalah pendampingan.

Menilik Potret Pendidikan Indonesia Selama Masa Pembelajaran Daring

Pekerja sosial dapat melakukan manajemen kasus untuk menangani anak secara intensif, mengetahui kondisi fisik anak, pergaulan dan situasi keluarga. Dari asesmen ini, Anda dapat merencanakan bersama anak dan keluarga apa saja yang dibutuhkan anak.

Selain itu, hal penting lainnya adalah menanyakan perasaan anak. “Selalu tanyakan bagaimana perasaan mereka. Kemudian memilah informasi yang perlu disampaikan mengenai situasi pandemi. Jangan memberikan informasi yang menambah kesedihan dan kekhawatiran anak,” jelas Tata.

Pentingnya vaksin juga disampaikan dalam webinar tersebut. “Fungsi vaksin adalah memberikan kekebalan pada anak dari virus yang dilemahkan. Virus ini akan membuat tubuh kita lebih kuat jika terpapar dan kondisinya tidak terlalu serius,” kata dr Nina.

Ia juga mengatakan, saat ini pemerintah telah melakukan vaksinasi terhadap anak berusia 12 tahun ke atas. Hal ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi anak dari paparan Covid-19.

Berbekal Pengalaman Sebagai Content Creator, Mahasiswa Ilmu Politik Lolos Program Magang Kampus Merdeka

Clift, narasumber anak-anak, juga mengatakan bahwa peran orang dewasa juga penting. “Dibutuhkan kesadaran orang dewasa terhadap protokol kesehatan dan menjaga orang lain tetap aman dan sehat,” jelas Clift.

Anak-anak di era pandemi Covid-19 juga tercatat sebagai anak yang kuat dan berprestasi karena harus menghadapi kondisi yang tidak biasa. Melatih kemandirian jika orang tua terpapar Covid-19, meningkatkan keterampilan teknologi karena harus belajar secara daring dan mampu melatih emosi.

Webinar ini diikuti oleh hampir 550 anak dan orang tua dari seluruh Indonesia, serta kementerian/lembaga terkait dan Civitas Akademika dari berbagai universitas di Indonesia.

Menceritakan Tentang Pengalaman Belajar Di Rumah

Menceritakan pengalaman belajar di rumah selama pandemi, menceritakan tentang belajar di rumah, pengalaman selama belajar di rumah, contoh pengalaman belajar di rumah, contoh menceritakan pengalaman kerja di cv, menceritakan pengalaman belajar di rumah, menceritakan pengalaman selama belajar online di rumah, menceritakan pengalaman selama belajar di rumah, contoh menceritakan pengalaman belajar di rumah, pengalaman belajar di rumah, menceritakan belajar di rumah, menceritakan pengalaman pribadi selama belajar di rumah

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *