Menyusuri Kehidupan Tradisional Suku Batak Karo – Suku Karo merupakan salah satu suku terpopuler di Sumatera Utara. Menurut laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Suku Karo merupakan suku asli yang tinggal di dataran tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara.

Nama suku Karo bahkan sempat dijadikan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yaitu Kabupaten Karo. Bahasa adat suku Karo disebut dengan bahasa Karo dan suku Karo juga mempunyai sapaan khas yaitu Mejuah-juah.

Menyusuri Kehidupan Tradisional Suku Batak Karo

Menyusuri Kehidupan Tradisional Suku Batak Karo

Selain bahasa dan sapaan yang khas, ternyata suku Karo mempunyai konsep dalam menentukan hubungan dan kekerabatan di lingkungannya. Konsep ini disebut Sangkep Nggeluh. Apa yang dimaksud dengan Sangkep Nggeluh? Berikut Sumut dirangkum untuk ers.

Mengenal Asal Usul Dan Adat 5 Suku Terbesar Di Pulau Sumatra

Menurut Brepin Tarigan M.Sn, Guru Besar Universitas Negeri Medan dalam artikelnya yang berjudul Karya Rakut Sitelu, Sangkep Nggeluh adalah keutuhan hidup seseorang. Yang dimaksud dengan keutuhan adalah unsur-unsur adat istiadat yang mengatur masyarakat Karo. Apabila suatu masyarakat suku Karo tidak mempunyai Sangkep Nggeluh, maka masyarakat tersebut dapat dikatakan belum sah menjadi Karo.

Bagi pendatang yang tinggal dan menikah dengan orang Karo, akan dicarikan seseorang untuk Sangkep Nggeluh. Dalam masyarakat etnis Karo terdapat beberapa unsur yang menentukan Sangkep Nggeluh yaitu Merga Silima, Tutur Siwaluh, Perkade-Kaden Ten Dua Tambah Sada dan Rakut Sitelu. Jadi apa maksudnya semua ini?

Merga Silima merupakan identitas masyarakat Karo yang diambil dari Merga ayahnya atau disebut marga. Nama keluarga muncul setelah nama depan seseorang. Merga digunakan sebagai nama keluarga laki-laki dan Beru sebagai nama keluarga perempuan. Merga dan beru diwariskan secara turun temurun secara patrilineal (garis keturunan ayah), tanpa menghiraukan garis keturunan ibu yang disebut bere-bere. Misalnya Erik merga Tarigan bere-bere Ginting untuk pria dan Elsa beru Tarigan bere-bere Sembiring untuk wanita.

Masyarakat etnis Karo mempunyai lima merga (marga) utama yaitu: Tarigan, Ginting, Wargan-angin, Karo-karo dan Sembiring. Lima Merga dan Beru menjadi identitas masyarakat etnis Karo dalam kehidupan sosial dan budaya. Identitas Merga dan Beru sudah menunjukkan bahwa seseorang itu laki-laki atau perempuan. Merga dan beru dalam masyarakat Karo sangat penting karena dijadikan identitas untuk melakukan proses bertutur.

Pdf) Pola Komunikasi Kekerabatan Suku Batak Dalam Penggunaan Marga Untuk Menjalin Keakraban

Ertutur adalah proses memperkenalkan atau memperkenalkan seseorang untuk mengetahui hubungan kekerabatan masyarakat Karo dalam upacara adat maupun dalam kehidupan sehari-hari dengan menanyakan apa yang dimaksud dengan merga (garis keturunan ayah) dan bere-bere (garis keturunan ibu). Proses ertutur dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Karo tidak hanya dalam lingkungan keluarga besar saja, namun juga bagi masyarakat yang tidak termasuk dalam lingkaran tersebut, sehingga dapat dikatakan seluruh masyarakat Karo yang mempunyai merga dan beru dapat menjadi kade-kade. (kerabat) jika melalui proses ertutur agar mengetahui posisi antara satu sama lain.

Masyarakat Karo mengenal delapan wacana, yaitu: Sembuyak, Senia, Senina Sipemeren, Senina Siparibanen, Anak Beru, Anak Beru Menteri, Kalimbubu dan Puang Kalimbubu. Kedelapan pidato tersebut dinamakan Tutur Siwaluh.

Perkataan Siwaluh akan menghasilkan Perkade-Kaden Sepuluh Dua Ditambah Sada. Perkade-Kaden Sepuluh Dua Tambah Sada berasal dari kata perkade-kaden yang berarti hubungan persaudaraan dalam struktur sosial, sepuluh dua ditambah sada berarti ada dua belas jenis hubungan persaudaraan dalam struktur sosial, dan tambah sada diartikan sebagai orang luar yang masuk. sistem. struktur tatanan masyarakat Karo dan kepada nenek moyang masyarakat Karo yang telah meninggal.

Menyusuri Kehidupan Tradisional Suku Batak Karo

Kesepuluh dua Perkade-Kaden tersebut adalah Bulang (kakek), Nini (nenek), Bapa (ayah), Nande (ibu), Bengkila (nama suami saudara perempuan ayah), Bibi (nama saudara perempuan ayah), Mama (nama saudara perempuan ayah), ibu nama saudara laki-laki), Mami (nama istri saudara laki-laki ibu), Impal (nama anak laki-laki ibu), Silih (nama ibu suami saudara perempuan), dan Berebere (nama anak laki-laki saudara laki-laki Dona).

Mengenal Baju Pengantin Adat Batak, Khas Karo Hingga Mandailing

Rakut Sitelu merupakan sistem kekerabatan yang mengatur kedudukan dalam adat istiadat masyarakat Karo yang terbagi menjadi tiga yaitu Kalimbubu, Sukut dan Anak Beru. Rakut adalah ikatan, Si adalah kata penghubung Yang, sedangkan Telu adalah Tiga.

Jadi, Rakut Sitelu adalah tiga ikatan yang membentuk suatu sistem tatanan sosial dalam masyarakat Karo. Sistem ini menjadikan masyarakat etnis Karo bersatu, memiliki dan menghormati satu sama lain.

Kalimbubu menjadi Dibata ni idah (Dewa Yang Terlihat) yang wajib dihormati dan diapresiasi karena dalam kepercayaan masyarakat Karo, Kalimbubu merupakan wakil Dibata di muka bumi dan pemberi dareh/tendi (jiwa atau roh) kepada seseorang. Sedangkan Anak Beru adalah “pelayan” atau pihak yang melakukan pekerjaan Sukut dalam upacara dan ritual adat, dan Sukut adalah pihak tuan rumah dalam upacara atau ritual adat. Namun dalam sistem Rakut Sitelu, ketiga jabatan tersebut akan dirotasi secara bergantian sehingga tidak ada kasta dalam masyarakat etnis Karo.

Untuk lebih memahami siapa Kalimbubu, Sukut dan Anak Beru, mari kita ambil contoh upacara pernikahan adat. Sukut adalah orang yang sudah menikah dan orang tuanya, sedangkan Kalimbubu adalah saudara laki-laki dan istri dari ibunya (mama dan mami), dan Anak Beru adalah saudara perempuan yang sudah menikah (turang) dan saudara perempuan dari ayahnya serta suami (bengkila dan bibi).

Jalani Prosesi Adat Batak Karo, Henry Indraguna Sah Bermarga Purba

Dapat disimpulkan bahwa Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu dan Perkade-Kaden Ten Dua Tambah Sada merupakan konsep yang mengatur ketertiban sosial pada masyarakat suku Karo.

Nah itulah konsep Sangkep Nggeluh pada masyarakat suku Karo yang terangkum di Sumatera Utara. Sangat kompleks, bukan? Saya harap ini bermanfaat bagi Anda 6 Maret 2018 13:27 6 Maret 2018 13:27 Diperbarui: 7 Maret 2018 14:34 2133 2 0

Jadi bagi para cowok yang saat ini sedang dekat dengan gadis Batak Karo dan mempunyai keinginan untuk menjadikannya sebagai pasangan hidup di kemudian hari. Mari kita lihat sekilas 7 alasan berikut:

Menyusuri Kehidupan Tradisional Suku Batak Karo

Bagi para pria tentunya tidak perlu takut jika uangnya dicuri, karena mereka adalah wanita pekerja.

Sirang Sirang Suku Batak

Kalau kalian sering mendengar kata-kata tentang cewek batak, apapun jenis bataknya, di benak cowok itu jorok, kalaupun tidak, kalian pasti tahu kalau mereka baik hati. Jangan hanya menilai dari luarnya saja ya ;).

Mereka umumnya tegas terhadap seseorang yang melakukan sesuatu dan melampaui ekspektasinya, tapi nggak sembarangan juga nih guys. apa yang kalian pikirkan?

Kalau soal kesetiaan memang tidak ada habisnya, karena gadis Batak mana pun, termasuk Batak Karo, terkenal dengan kesetiaannya. Nah setelah mengetahui hal ini guys tidak perlu khawatir ditipu ;).

Ambisius, artinya menurut mereka, setiap pekerjaan yang dilakukan harus sesuai dengan tujuan. Hal ini dapat menjadi motivasi bagi anak laki-laki dalam berkarir.

Batak People: Batak Karo Dusun Di Kab. Deli Serdang (english Version)

Hal ini sangat melekat pada mereka, mulai dari makanan khas daerah seperti arsik ikan mas, gulai ayam kampung, cimpa dan masakan lainnya. Jadi jika ingin melanjutkan hubungan yang lebih tinggi dengan mereka, Anda tidak perlu khawatir lagi karena mereka tidak tahu cara memasak, mereka melakukannya dengan baik 😉

Tidak semua cewek bisa tampil natural saat pergi kemana pun, tapi mereka bisa tampil natural. Bagaimana cara menyapa atau tidak? Sepasang suami istri Karo yang baru menikah mengenakan pakaian adat Karo (2010), upacara pernikahannya disebut Erdemu Bayu dalam bahasa lokal Karo.

Suku Karo, atau Karo, adalah masyarakat Tanah Karo (tanah Karo) dan bagian dari masyarakat Karo di Sumatera Utara, Indonesia. Tanah Karo terdiri dari Kabupaten Karo, ditambah daerah sekitarnya di Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, dan Kabupaten Deli Serdang.

Menyusuri Kehidupan Tradisional Suku Batak Karo

Selain itu, Kota Binjai dan Medan yang keduanya berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang memiliki jumlah penduduk Karo yang cukup besar, khususnya di wilayah Padang Bulan Medan. Kota Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, di kaki jalan Medan hingga Berastagi, juga merupakan kota penting Karo.

Suku Karo Adat Dan Budayanya

Karoland memiliki dua gunung berapi besar, Gunung Sinabung, yang meletus setelah 400 tahun tidak aktif pada 27 Agustus 2010.

Tanah Karo ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1904. Pada tahun 1906 dibangun jalan menuju dataran tinggi, sehingga mengisolasi masyarakat Karo dari dataran tinggi. Jalan tersebut menghubungkan Medan dan dataran rendah ke Kabanjahe dan dari sana ke Kutacane di Aceh dan Pematangsiantar di Simalungun. Evangelisasi Kristen pertama dilakukan di kalangan masyarakat Karo pada tahun 1890 oleh Masyarakat Misionaris Belanda. Karena dianggap berhubungan dengan kolonialisme Hindia Belanda, hanya sebagian kecil masyarakat Karo yang awalnya berpindah agama dan baru setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, agama Kristen mendapat dukungan yang signifikan di kalangan masyarakat Karo.

Pada tahun 1911, sebuah proyek pertanian dimulai di Berastagi, yang sekarang menjadi kota utama Karoland, untuk menanam sayuran Eropa di suhu yang lebih sejuk. Berastagi saat ini merupakan wilayah paling makmur di Karoland, hanya satu jam dari Medan, sementara kota-kota yang terletak lebih jauh ke pedalaman mempunyai pendapatan yang lebih rendah dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan.

Masyarakat Karo menuturkan bahasa Karo, bahasa Batak bagian utara namun tidak dapat dimengerti satu sama lain dengan bahasa Batak bagian selatan, selain bahasa Indonesia. Masyarakat Karo ini terbagi dalam marga-marga atau merga. Merga Karo adalah Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Wargan-Angin dan Tarigan; fusi ini dibagi menjadi subklan dan akhirnya keluarga.

Bahas Bahasa Uis Batak Karo

Antara abad ke-13 dan ke-16, masyarakat Karo mendirikan Kerajaan Aru (juga dieja Haru), yang terletak di kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang saat ini. Itu adalah salah satu kerajaan pertama di Sumatra.

Masyarakat kerajaan Aru menganut paham animisme asli, Hindu, dan Islam. Islam perlahan-lahan memperoleh pengaruh di wilayah pesisir sejak akhir abad ke-13. Meskipun merupakan salah satu kerajaan pertama di Sumatera yang memeluk agama Islam, masyarakat Kerajaan Aru masih didominasi oleh penyembah berhala, terutama yang mendiami wilayah pedalaman. Negara penerus Kerajaan Aru adalah

Asal usul suku batak karo, pakaian tradisional suku batak, kain tradisional suku batak, kebudayaan suku batak karo, makanan tradisional suku batak, adat istiadat suku batak karo, suku batak karo, suku karo bukan batak, pakaian adat suku batak karo, suku batak, sejarah suku batak karo, rumah adat suku batak karo

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *