Pengalaman Siswa Selama Belajar Di Rumah – Nelyanthi AR. Husain. R011191073. PENGALAMAN ORANG TUA SISWA SD DALAM PROSES PENGAWASAN BELAJAR DARI RUMAH PADA PANDEMI COVID-19

Latar Belakang: Covid-19 (Coronavirus Disease-19) merupakan virus yang menyebar dengan cepat di beberapa negara, termasuk Indonesia, sehingga menyebabkan pembatasan berbagai kegiatan, termasuk sekolah. Penerapan kebijakan pendidikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengharuskan guru dan siswa untuk tetap bekerja dan belajar di rumah mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Peran orang tua dalam membantu anak belajar saat belajar di rumah menjadi sangat intens. Awalnya orang tua memainkan peran utama, namun peran mereka telah meluas hingga mencakup mendukung pendidikan akademis.

Pengalaman Siswa Selama Belajar Di Rumah

Pengalaman Siswa Selama Belajar Di Rumah

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengalaman orang tua selama proses pembelajaran di rumah pada masa pandemi Covid-19 pada siswa di SDN 1 Ratolindo Kabupaten Tojo Una-una Provinsi Sulawesi Tengah.

Contoh Karangan Bebas Tentang Pengalaman Libur Lebaran Untuk Anak Sd

Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis melalui teknik wawancara mendalam. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yang dipilih dengan menggunakan purposive sampling.

Hasil: Hasil analisis tema adalah (1) Keterlibatan orang tua saat mendampingi anak belajar (2) Permasalahan orang tua saat membesarkan anak (3) Pola perilaku sebelum dan saat pandemi (4) Pola karakteristik anak sebelum dan saat pandemi pandemi

Kesimpulan dan saran: Keterlibatan orang tua semakin meningkat, karena selain menjalankan tugas sehari-hari, orang tua juga menjadi pembimbing anak atau guru kedua ketika menjalankan pembelajaran daring dan sesuai dengan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Saran: Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan semangat kepada para orang tua untuk terus belajar dan meningkatkan keterlibatannya dalam membimbing dan mengarahkan mereka untuk mencapai potensi pendidikan yang lebih besar di masa pandemi saat ini. Nama saya Audrey Regina Verlee Setiawan. Saya sekarang duduk di bangku kelas 1 SD Maria Bintang Laut yang berlokasi di

. Saya ingin berbagi kepada teman-teman tentang pengalaman saya belajar di rumah atau biasa kita sebut dengan Pembelajaran Jarak Jauh yang disingkat dengan PJJ.

Indonesia: Survei Terbaru Menunjukkan Bagaimana Siswa Belajar Dari Rumah

Ke Indonesia pada bulan Maret 2020, sehingga kita semua diwajibkan belajar di rumah untuk memutus rantai penyebaran virus. Teman-teman walaupun belajar dari rumah aku selalu semangat dalam melakukan PJJ karena aku mempunyai orang tua terutama ibu yang selalu mendampingiku ketika belajar daring, mereka adalah guru-guruku di rumah.

Setiap hari saya melihat dan mendengarkan penjelasan materi pembelajaran yang disampaikan oleh Pak. dan Ny. Guru melalui video pembelajaran dan seminggu sekali saya bertemu dengan Pak. Guru dan teman-teman melalui video.

Saya punya Tuan. dan Ny. Guru-gurunya baik… Ada Pa Jujun yang selalu sabar menghadapi kita, banyak bicara saat rapat, ada Bu Luci yang lemah lembut, ada Bu Luci yang lemah lembut, ada Bu Luci yang lembut. Elvira yang baik hati dan lucu, Loushi Viona yang baik hati, Pak Freddy yang pandai menyanyi dan bermain musik serta Bu. Tambahan. Mereka semua bekerja keras dan penuh kesabaran mendidik kami agar kami semua menjadi anak-anak yang cerdas.

Pengalaman Siswa Selama Belajar Di Rumah

. Kata kata ini sangat tepat untuk kita yang sedang PJJ. Terkadang saya juga bosan dengan banyaknya tugas karena saya masih suka bermain. Aku juga sedih karena dari pertama aku duduk di kelas 1 hingga saat aku menulis cerita ini aku tidak bisa belajar dan bermain dengan teman-temanku.

Hikmah Belajar Di Masa Pandemi

“Rahmat Tuhan bagi Indonesia dan seluruh negara di dunia agar kasus Covid-19 segera berlalu dan hilang sehingga saya dapat belajar di sekolah kembali bersama guru dan teman-teman Bapak dan Ibu. Beri kami kesehatan dan berkahi kami dimanapun kami berada. Amin.” Setelah lulus dari Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya memutuskan untuk mengajar di sekolah yang berbeda dari sebelumnya. Sejujurnya aku sudah mengenal banyak orang di sekolah baru ini. Namun, bekerja di tempat baru berarti saya masih menjalani proses penyesuaian.

Di sekolah ini saya bekerja penuh waktu sebagai guru kelas 5 tanpa tugas tambahan. Saya merasa banyak hal di sekolah ini yang tidak sesuai dengan keinginan atau imajinasi saya. Segalanya tampak jauh dari apa yang saya impikan. Selain itu, semangat para guru muda di sekolah ini sangat berbeda dengan teman-temannya di Program PPG.

Walaupun saya guru baru, saya banyak memberikan masukan kepada pihak sekolah. Sayangnya masukan saya hanya mendapat sedikit tanggapan. Sedih? Tentu saja. Namun, saya bertekad untuk tidak membiarkan semangat saya berkurang.

Aku menghabiskan hari-hariku bekerja di sekolah baru dengan mengikuti arus: mengajar sesuai materi yang ada, berangkat dan pulang sekolah sesuai jadwal, dan tetap mengajar dengan baik walaupun terkadang ada rasa tidak nyaman di lingkungan baru. . .

Pemanfaatan Teknologi Memberikan Pengalaman Belajar Yang Menyenangkan

Suatu hari saya diminta mengirimkan siswanya untuk mengikuti lomba matematika dan sains (MIPA) tingkat kecamatan. Tugas ini tidak mudah karena saya kesulitan menemukan siswa yang berkualitas.

Di situlah saya mulai bersemangat. Dalam hati saya berpikir, “Sudahlah, tidak perlu mengikuti orang lain atau mengajak yang tidak berkepentingan.”

Menurut saya, jika ingin melakukan perubahan harus dimulai dari diri sendiri, bukan orang lain. Jadi, ketika hatiku mulai bergerak, aku pun segera bergerak.

Pengalaman Siswa Selama Belajar Di Rumah

Kemudian saya memulai kegiatan yang menurut saya baik dan bermanfaat. Saya mengatur dan mendekorasi kelas, serta menyelesaikan tugas-tugas administratif. Saya membuat program sendiri di kelas dengan harapan dapat menjalin hubungan baik dengan orang tua siswa, serta menjadi contoh kelas yang mandiri, inovatif dan kreatif.

Pandemi Covid 19, Bagaimana Peran Perpustakaan ?

Setiap pagi saya meluangkan waktu untuk menyambut siswa di gerbang sekolah. Saya juga mengajak siswa untuk membersihkan kelas, menyiram tanaman, dll.

Saya kemudian diminta mempersiapkan dan membimbing siswa yang akan mengikuti perlombaan, seperti menyanyi dan menggambar. Pada titik ini saya mulai merasa nyaman. Kelas menjadi lebih rapi dan saya selalu mengikutsertakan orang tua siswa dalam kegiatan yang saya jalankan. Saya juga membentuk komunitas kelas 5.

Meski segala sesuatunya tampak berjalan lancar, namun kendala tetap ada. Kepala sekolah jarang menerima saran dari sesama guru, sehingga terkadang membuat dia khawatir.

Lingkungan sekolah tempat saya mengajar sangat nyaman. Jumlah siswanya cukup banyak dan telah mencapai standar minimal 20 siswa dalam setiap kelompok belajar (rombel). Guru yang mengajar di sekolah ini antara lain guru honorer (5 orang) dan guru berstatus PNS/PNS (4 orang).

Tumbuhkan Literasi Budaya, Siswa Sdit At

Namun saya kesulitan mengajak rekan-rekan guru untuk berinovasi dan menciptakan berbagai kegiatan. Mereka mempunyai semangat yang berbeda dengan teman-teman di Program PPG.

Guru yang berstatus PNS akan segera pensiun sehingga produktivitasnya tidak lagi seperti dulu. Di sisi lain, rekan-rekan guru yang berstatus honorer sibuk dengan urusan keluarga. Setiap hari mereka datang untuk belajar, lalu langsung pulang. Sulit untuk mengajak mereka menumbuhkan kebiasaan menyambut santri di pagi hari, rutin salat Dhuha, dan menghafal surah pendek dan Asmaul Husna, apalagi mengajak mereka mengembangkan literasi.

Selama ini saya hanya memenuhi kewajiban mengajar siswa dan memberikan pembelajaran interaktif yang sangat sedikit karena kurangnya fasilitas sekolah dan dukungan dari kepala sekolah.

Pengalaman Siswa Selama Belajar Di Rumah

Setiap pagi saya berangkat pagi agar bisa menyambut siswa ke sekolah dan menemani mereka membersihkan kelas.

Sekolah Baru, Pengalaman Baru

**Semua artikel yang dimuat di Catatan Perjalanan untuk Guru merupakan opini penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program di Indonesia atau penyandang dananya. Jakarta (23/9) – Pada artikel sebelumnya kami telah menjelaskan betapa besarnya peluang yang ada di masa pandemi COVID-19. Hampir semua sektor terkena dampaknya, termasuk pendidikan dan pembelajaran. Jika Anda sudah membaca artikel bagian pertama, yuk simak pengalaman para guru inovatif yang berbagi pengalamannya selama pandemi demi menjaga semangat belajar siswa kita.

Mereka adalah guru inovatif yang mengikuti bimbingan teknis (bimtek) pada tahun 2020 dengan materi antara lain; Pokok-pokok Pengembangan Pusat Sumber Belajar, Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif, dan Penciptaan Media Pembelajaran Berbasis ICT. Guru-guru yang diwawancarai merupakan peserta terbaik yang mengikuti masing-masing program tersebut dan berhasil menyelesaikan seluruh tugasnya.

Di akhir juknis diadakan sharing session, dimana para guru berbagi pengalaman, mempresentasikan inovasinya dalam mengembangkan media pembelajaran dan penerapannya dalam berbagai model pembelajaran yang inovatif. Sharing session ini dihadiri oleh seluruh peserta bimtek serta seluruh trainer dan negosiator dari pakar teknologi pembelajaran.

Dari hasil wawancara jarak jauh asynchronous (via WA), berikut ini disajikan sejumlah solusi yang mereka terapkan sesuai kondisi masing-masing. Kasus-kasus pengembangan inovasi pembelajaran ini cukup menarik dan bervariasi, dan diharapkan dapat memberikan inspirasi dan masukan bagi rekan-rekan guru, tenaga kependidikan, dan pengambil kebijakan.

Menyusun Cerita Praktik Baik (best Practice) Menggunakan Metode Star (situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi) Hasil Dan Dampak Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Peserta Didik Dalam Pembelajaran

Nyonya. Samini, seorang guru sekolah dasar di Jakarta mengembangkan inovasi pembelajaran dengan menggabungkan berbagai metode. Permasalahan yang dihadapi antara lain siswa pada umumnya tidak mempunyai gawai. Untuk mengakses internet, siswa menggunakan telepon genggam orang tuanya. Sedangkan pada siang hari telepon genggam digunakan untuk bekerja, sehingga siswa hanya mempunyai waktu pada malam hari.

Ibu Samini mengunggah bahan pelajaran ke blognya pada malam hari dan meminta orang tua untuk menemani putra-putrinya saat membuka blog pada malam harinya. Inilah yang Ny. Samini:

Saya Sami, guru kelas 5 SDN Jatinegara 08 Kecamatan Cakung Jakarta Timur. Sekolah kami tidak jauh dari stasiun Buaran, di seberang rel kereta api. Rata-rata warga sekitar sekolah kami berprofesi sebagai buruh pabrik karena lokasi sekolah juga dekat dengan Kawasan Industri Pulogadung. Ada pula yang berprofesi sebagai tukang ojek online dan penjual keliling.

Pengalaman Siswa Selama Belajar Di Rumah

Wilayah sekolah kami termasuk zona merah sejak awal pandemi Covid-19 hingga Juni 2021. Kondisi ini membuat sekolah kami tidak bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka. Kegiatan pembelajaran dilakukan sepenuhnya secara online. Namun kami tetap melayani siswa yang tidak memiliki gawai, dengan kunjungan rumah dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Flipped Classroom Sebagai Solusi Pembelajaran Tatap Muka Bergilir Pasca Pandemi

Saya menggunakan model flipped class dan blended learning (virtual tatap muka dengan Zoom dan Google Meet, tugas di Google Classroom) Materi saya posting di blog pada malam hari. Harapan saya

Harapan siswa selama belajar di rumah brainly, pengalaman belajar di rumah selama, pengalaman selama belajar daring di rumah, menceritakan pengalaman selama belajar di rumah, perasaan siswa selama belajar di rumah, harapan siswa selama belajar di rumah, puisi tentang pengalaman selama belajar di rumah, curahan hati siswa selama belajar di rumah, mengarang pengalaman selama belajar di rumah, pengalaman menyenangkan selama belajar di rumah, pengalaman belajar di rumah selama masa pandemi, keluhan siswa selama belajar di rumah

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *