Wisata Religi Di Candi Sewu, Prambanan – 7°44′38.148″LS 110°29′34.224″BT / 7.74393000°LS 110.49284000°BT / -7.74393000; 110.49284000 Koordinat: 7°44′38.148″S 110°29′34.224″E / 7.74393000°S 110.49284000°E / -7.74393000; 110.49284000

Candi Sewu (Jawa: , trans. Candhi Sèwu ) Candi Budha yang dibangun pada abad ke-8, berjarak sekitar delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan.

Wisata Religi Di Candi Sewu, Prambanan

Wisata Religi Di Candi Sewu, Prambanan

Candi Sewu merupakan kompleks candi Budha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Awalnya dikenal dengan nama Manjusri grha (Rumah Manjusri), Candi Sewu lebih tua dari Candi Borobudur dan Prambanan. Meski awalnya memiliki 249 candi, namun masyarakat setempat menyebut candi ini “Sewu” yang dalam bahasa Jawa artinya seribu. Nama ini berdasarkan cerita legenda Loro Jonggrang.

Candi Sewu Kecamatan Prambanan

Secara administratif kompleks Candi Sewu berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Pada prasasti Manjusrigrha (792) yang ditemukan pada tahun 1960 di dekat sisi luar barat candi Perwara, candi no. 202 (jalur 4 nomor 37) di kompleks Candi Sewu.

Berdasarkan Prasasti Kelurak bertanggal 782 dan Prasasti Manjusrigrha bertanggal 792 dan ditemukan pada tahun 1960, nama asli candi ini adalah “Prasada Vajrasana Manjusrigrha”. Istilah Prasada berarti kuil atau kuil, sedangkan Vajrajasana berarti tempat duduknya Wajra (berlian atau petir), Manjusri-grha berarti Rumah Manjusri. Manjusri adalah salah satu ajaran Bodhisattva dalam agama Buddha. Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke 8 Masehi pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746-784) adalah raja paling terkenal dari kerajaan Mataram kuno.

Kompleks candi ini kemungkinan besar pernah dipugar dan diperbesar pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya, yang menikah dengan Pramodhawardhani dari dinasti Sailendra. Setelah Dinasti Sanjaya berkuasa, masyarakatnya masih menganut agama lama. Keberadaan Candi Sewu berlanggam Budha di samping Candi Prambanan berlangas Hindu menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu di Pulau Jawa umat Hindu dan Budha hidup rukun dan terdapat toleransi beragama. Karena besarnya dan luasnya kompleks candi ini, Candi Sewu diyakini pernah menjadi Candi Kerajaan Buddha, sekaligus pusat penting kegiatan keagamaan umat Buddha di masa lalu. Candi ini terletak di Lembah Prambanan yang membentang dari lereng selatan Gunung Merapi di utara hingga Pegunungan Sewu di selatan, di sekitar perbatasan Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di lembah ini, candi dan situs kuno tersebar beberapa ratus meter. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini sangat penting dalam bidang keagamaan, politik, dan kehidupan perkotaan masyarakat Jawa Kuna.

Candi Sewu 图片、库存照片和矢量图| Shutterstock

Candi ini rusak parah akibat gempa bumi Mei 2006 di Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan. Kerusakan struktur bangunan sangat nyata dan candi induk mengalami kerusakan paling parah. Fragmen batu candi berserakan di tanah, retakan dan retakan terlihat di antara kerangka batu. Untuk mencegah agar bangunan tidak runtuh, maka dipasanglah pelat besi pada keempat sudut bangunan untuk menopang dan menahan bagian utama candi. Meskipun situs ini dibuka untuk pengunjung beberapa minggu setelah gempa tahun 2006, seluruh candi induk tetap ditutup dan tidak dapat dimasuki karena alasan keamanan.

Kompleks Candi Sewu merupakan kumpulan candi Budha terbesar di kawasan sekitar Prambanan, dengan luas tanah 185 meter utara dan selatan serta 165 meter barat timur. Pintu masuk kompleks dapat ditemukan di keempat arah mata angin, namun jika dilihat dari struktur bangunannya, diketahui bahwa gerbang utama terletak di sebelah timur. Setiap pintu masuk dijaga oleh dua buah arca Dwarapala. Patung pengawal raksasa ini berukuran tinggi sekitar 2,3 meter, kondisinya cukup baik, dan dapat ditemukan di Keraton Yogyakarta.

Aslinya 249 bangunan candi di kompleks ini merupakan bentuk mandala wajradhatu, wujud alam semesta dalam kosmologi Buddha Mahayana. Selain candi induk terbesar, di bagian tengah, selatan, dan barat timur-selatan, dengan jarak satu sama lain 200 meter, antara 2 hingga 3 baris candi Perwara (penjaga) yang lebih kecil terdapat 8 candi Penjuru; Candi Candi ini merupakan candi kedua yang ukurannya paling besar setelah candi induk. Pada mulanya terdapat sepasang candi sudut yang saling berhadapan pada masing-masing titik mata angin, namun kini hanya candi kembar sudut timur dan salah satu candi sudut utara yang masih utuh. Berdasarkan penelitian pondasi bangunan, diperkirakan candi di utara hanya satu sudut dan satu candi sudut dibangun di selatan, keduanya menghadap ke timur. Artinya candi-candi yang berada di sudut timur timur dan sudut tenggara selatan tidak pernah (tidak pernah sempat) dibangun untuk menyelesaikan desain awal.

Wisata Religi Di Candi Sewu, Prambanan

Candi perwara yang lebih kecil pada awalnya terdiri dari 240 buah dengan desain yang kurang lebih sama, disusun dalam empat baris konsentris. Barisan pertama sebanyak 28 candi dilihat dari dalam, baris kedua candi disusun dengan jarak waktu tertentu. Dua tingkat terluar ketiga terdiri dari 80 candi, tingkat terluar keempat terdiri dari 88 candi kecil yang disusun berdekatan.

Candi Sewu: Sejarah, Tips Dan Harga Tiket Masuk

Candi perwara tingkat empat merupakan dua jenis candi perwara; Baris keempat memiliki desain yang mirip dengan baris pertama (terdalam), yaitu pada penampang portal, sedangkan baris kedua dan ketiga mewakili tingkat yang lebih tinggi dari berbagai portal. Banyak tanda dan ornamen yang hilang dan tatanannya berubah. Candi perwara ini dipenuhi dengan patung Dhyani Buddha. Empat jenis Dhyani Buddha ditemukan di kompleks Candi Sewu. Patung Buddha yang memenuhi candi-candi ini mungkin mirip dengan patung Buddha di Borobudur.

Candi-candi yang lebih kecil ini mengelilingi candi induk, namun beberapa bagiannya belum lengkap. Di belakang empat baris aedicula terdapat pelataran batu dan di tengahnya berdiri candi induk.

Candi induk mempunyai desain poligon bersudut 20 menyerupai salib, dengan diameter 29 meter dan tinggi bangunan mencapai 30 meter. Di setiap sudut lingkaran mereka membangun bangunan-bangunan yang menonjol, masing-masing mempunyai tangga dan ruangan tersendiri, dan dimahkotai dengan struktur stupa. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit. Kamar-kamar tersebut terhubung ke empat arah mata angin dengan pagar sudut.

Berdasarkan temuan pemugaran, diperkirakan desain awal bangunan tersebut berupa candi induk tunggal. Candi ini kemudian diperluas dengan tambahan bangunan di sekitarnya. Sebuah gapura dibuat untuk menghubungkan bangunan tambahan dengan candi induk dan membuat candi induk dengan lima ruangan. Ruangan di tengah berukuran lebih besar dengan atap yang lebih tinggi, dan dapat dimasuki melalui bilik timur. Tidak ada patung di lima ruangan ini.

Hari Ini, Sudah 30 Tahun Candi Prambanan Sebagai World Heritage

Namun berdasarkan adanya batu atau singgasana berukir loti pada ruang utama, sebelumnya pada ruangan ini terdapat patung perunggu Manjusri atau Buddha Bodhisattva yang tingginya mencapai 4 meter. Meski arca tersebut kini sudah hilang, mungkin berabad-abad yang lalu logamnya telah dilucuti.–Prambanan () Candi Prambanan bersama dengan Candi Borobudur, Mendut dan Pawon yang berdiri saat ini, bisa digunakan untuk kegiatan umat Hindu di Indonesia. dan umat Buddha dan Dunia.

Ada empat kementerian yang bertemu, yakni: Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset-Teknologi, Kementerian BUMN, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Perjanjian tersebut juga melibatkan dua pemerintah provinsi, yaitu Provinsi DIY dan Jawa Tengah.

Perjanjian ini diterima oleh umat Buddha. Sebagai wujud rasa syukurnya, mereka melakukan pemujaan di Candi Sewu.

Wisata Religi Di Candi Sewu, Prambanan

“Hari ini, bersama umat Buddha dan Kementerian Agama, kami menyelenggarakan ritual sembahyang puja sebagai wujud rasa syukur atas ditandatanganinya kesepakatan bahwa candi Buddha dapat digunakan di situs keagamaan Buddha di Indonesia dan dunia.” jelas pendeta Budha Banthe Badra Palo usai memimpin puja bakti di Candi Sewu. , Jumat (11/2/2022).

Candi Borobudur Dan Candi Prambanan Ditetapkan Sebagai Tempat Ibadah Dunia

Ibadah tersebut berlangsung kurang lebih satu jam, dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Di halaman candi, bhakti ini didampingi oleh guru agama Buddha, guru agama Buddha, dan siswa Dhammasekha dari Kabupaten Gunung Kidul.

Perjanjian ini merupakan kabar baik dan menggembirakan. Kini umat Buddha dari seluruh dunia dapat memanfaatkan kuil tersebut tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai tempat latihan spiritual untuk mengembangkan kebahagiaan seutuhnya,” kata Banthe.

Banthe mengajak masyarakat untuk merawat candi Budha sebagai tempat mengamalkan spiritualitas dan membangun peradaban sosial yang sinergis. Menurut pihak Pura sendiri, dibangun karena adanya sinergi satu sama lain.

“Sinergi ini sangat menguatkan umat Buddha di seluruh dunia. Vihara Buddha ini kita manfaatkan bersama untuk latihan pribadi dan spiritual demi pengembangan Buddha, Sangha, dan Dharma di nusantara,” ujarnya.

Prambanan And Sewu Temple • Magnificent Temples In Yogyakarta • Notchbad

Pengurus Pondok Pesantren Budha di Gunung Kidul, Banthe Badra Palo berharap, setiap Uposatha (hari refleksi umat Budha) ia mengajak santrinya untuk menghabiskan waktu di vihara Budha. Ia juga berharap seluruh umat Buddha dapat memanfaatkan vihara bersama-sama saat Uposatha untuk berlatih pengembangan diri bersama.

Hal senada disampaikan Kantor Bimbingan Buddha Gubernur Daerah Yogyakarta Saryono. Menurut dia, puja bakti yang digelar bagi umat Buddha di DIY dan Indonesia ini dalam rangka memperingati adanya kesepakatan antara Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri BUMN, Menparekraf, dan Gubernur. DIY dan Jawa Tengah.

Saryono mengatakan lokasi Candi Sewu (tempat ibadah Budha) berada di kompleks Candi Prambanan (tempat ibadah Hindu). Keduanya kini bisa digunakan untuk kuil.

Wisata Religi Di Candi Sewu, Prambanan

“Candi Sewu dan Candi Prambanan merupakan cerminan kerukunan umat beragama pada zaman dahulu. Ini merupakan bagian dari gambaran pengendalian agama pada zaman dahulu. Meski berbeda agama, namun bisa bersatu,” ujarnya.

Apa Yang Keliru Dari Wisata Ke Candi Prambanan Hanya Untuk Selfie? –dan Upaya Menemukan Solusi

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *